Kamis, 29 Desember 2011

Al Fatihah ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
"Yang Menguasai Hari Pembalasan"


Malik berarti majikan atau orang yang mempunyai hak atas sesuatu dan memiliki kekuasaan untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya 
Yaum berarti waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenam atau mengandung arti masa sekarang
Din berarti pembalasan atau ganjaran, peradilan atau perhitungan, kekuasaan atau pemerintahan, kepatuhan, agama dan sebagainya

Keempat sifat Tuhan yaitu “Rabbul ‘Alamin, Ar-Rahman, Ar-Rahim dan Maliki yaumiddin” adalah sifat-sifat Tuhan yang pokok. Sementara sifat-sifat Tuhan yang lainnya fungsinya hanya sebagai penjelas atau semacam tafsiran dari ke empat sifat tersebut. Ke empat sifat  itu bagaikan empat buah tiang yang di atasnya terletak  singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa.  

Rabu, 28 Desember 2011

Al Fatihah ayat 3

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
"Maha Pemurah, Maha Penyayang"

Kata Ar-Rahman hanya dipakai untuk Tuhan, sedang Ar-Rahim dapat dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Ar-Rahim terutama tertuju pada orang-orang mukmin saja. Manurut sabda Rasulullah saw., sifat Ar-Rahman umumnya bertalian dengan kehidupan di duni ini, sedangkan sifat Ar-Rahim umumnya bertalian dengan sifat yang akan datang (Muhith). Artinya karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Ar-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan sifat Tuhan Ar-Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang.

Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan suda tersedia untuk kita sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan. Sedangkan karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang akan datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahman itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedangkan Ar-Rahim itu Pemberi nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjarannya.
 

Al Fatihah ayat 2

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam"

Alhamdu adalah kalimat pujian. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Rabb berarti Tuhan. Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah).
Alamin semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. ALlah pencipta semua alam-alam itu.

Tafsir Jalalain :
(Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. (Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya. 

BASMALAH

بسم الله الرحمن الرحيم
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang"

'Bi ismi' di awal ayat berkaitan dengan kata kerja yang tersembunyi setelahnya sesuai dengan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Misalnya membaca basmalah ketika hendak makan, maka takdir kalimatnya adalah : Dengan menyebut nama Allah aku makan.
Terletaknya kata kerja dibelakang tersebut memiliki dua fungsi :
  • Mengharapkan berkah dengan mendahulukan asma Allah
  • Pembatasan maksud, karena meletakkan ‘amil dibelakang berfungsi membatasi makna. Seolah engkau berkata : Aku tidak makan dengan menyebut nama siapapun untuk mengharap berkah dengannya dan untuk meminta pertolongan darinya selain nama Allah.